Aku dan Rumah

Kalau aku ingin masuk, aku bisa lihat ibuku dari teras memasak di dalam dapur. Terkadang juga, dia masih ada di kamar, jadi saya harus melewati taman berumput hijau ke arah jendela kamarnya untuk mengetuk kaca. Ketika pintu dibuka, ruang tengah itu tampak kosong. Hanya ada tumpukan barang yang dibungkus kardus. Sebagian sudah tersebar di seluruh rumah, dan sisanya dibiarkan tertinggal. Ruang ini menghubungkan dapur, teras dalam rumah, dan lorong kamar-kamar. Ketika kamu masuk ke lorongnya yang hanya 1 meteran lebarnya, kamu akan melewati pintu kamar orangtuaku, berbelok ke kiri, lalu ada pintu kamar mandi di kanan, kamar kakakku di kiri, dan lorong ini berakhir di kamarku. Tampaknya dulu kamarku dan kakakku baru saja ditempati oleh anak kecil dan imjinasinya tentang kartun-kartun seperti mickey mouse, daisy duck, dan teman-temannya. Ketika kamu masuk ke kamarku, kamu akan disambut dengan tembok putih dan pintu yang membagi kamarku ini menjadi dua. Di kamar yang satunya, terdapat dua pintu lagi yang menghubungkan kamarku dengan teras dalam rumah, dan kamar mandi dalam.Pusat aktivitasku ada di bagian kamar yang dekat lorong. Di dalam kamar ini, kasurku menghadap ke meja belajar yang letaknya sejajar dengan pintu yang menuju ke lorong. DI kanan kasurku, menempel di tembok tepatnya, terdapat lemari besar dengan stiker kartun disney yang sekiranya tembus ke kamar kakakku juga. Jendelanya berada di samping kiri kasurku, dan bila siang tiba, kamarku menjadi terang, dan begitu pula redup. Kondisi yang sangat damai, dan sangat aku kenang sampai sekarang. Kalau pada siang hari, biarkan saja cahayanya menembus ke ruangmu, nyalakan lagu yang kiranya membuatmu tenang, dan bacalah buku tentang sebuah perjalanan. Kalau kamu bersandar di kasur rendahmu, tinggikan bantalmu hingga tingkat dua, dan berbaring melihat ke atas, aku rasa lelah menuju ke tempat ini hilang begitu saja.

Ketika subuh tiba, tubuhku tidak lagi besar, mungkin hanya setinggi tongkat sapu kebanyakan. Aku terbangun dari kasurku yang menghadap ke jendela besar dengan gorden yang berwarna biru. Aku ingat cat tembok di kamarku ini berbentuk frekuensi yang saling bertabrakan. Warna dasarnya putih, dan warna gelombangnya merah muda dan biru muda. Ketika ingin keluar, aku berhadapan dengan pintu kayu yang sangat kokoh, dari jati mungkin, dan lemari yang sangat tinggi di sebelah kirinya. Kalau aku membuka pintu dengan daun pintu yang berat, bunyinya bisa membangunkan seisi rumah lainnya. Di luar pintu, aku melihat pintu dengan jenis yang sama di depanku persis, dan lemari yang JAUH lebih besar dari yang ada di kamarku. Tingginya benar-benar raksasa! aku bahkan diajari untuk memanjat lemari itu untuk mematikan dan menyalakan lampu di ruang tengah itu.Di ruang tengah itu, sambil menunggu ibu memasak atau hanya sekedar terbangun, aku duduk sambil meringkuk kedinginan di salah satu sofa biru besar yang mengahadap ke TV yang ada di lemari besar itu. Kalau aku menengok ke belakang dari sofa itu, aku melihat undakan dengan dua anak tangga yang menuju pintu geser besar yang terdiri dari dua pintu. Biasanya gelap dan dingin subuh tertutup oleh tirai jahit berwarna putih yang menyelimuti pintu tersebut. Kalau sudah agak pagi, namun masih gelap, aku harus membuka pintu itu agar udara dingin bisa masuk ke dalam rumah. Kadang aku keterusan berada di luar pintu tersebut dan berakhir duduk bengong kedinginan di kursi kayu yang menghadap teras di belakang rumahku. Entah apa yang aku lihat. Kalau aku iseng, aku juga sering memainkan piano yang letaknya ada di sebelah kanan pintu ini dan ketika aku duduk aku membelakangi sofa dan TV di ruang tengah.Tapi tentu aku tidak boleh bermain di saat subuh buta seperti ini. Kalau tidak sedang sahur atau apapun, aku langsung saja menyalakan PS2 yang tersambung di TV tengah, dan bermain game RPG apapun yang aku punya. Namun kalau sahur tiba, aku pergi ke ruang makan yang letaknya di sebelah kiri pintu itu. Meja makannya bulat, dan diatasnya terdapat kaca yang bisa diputar untuk memilih dan mengambil makanan yang ada di atasnya. kalau lantainya dingin, aku suka menaikkan kakiku ke persilangan besi di bawah meja makan, yang sebenarnya sama saja dinginnya. Setelah semua usai. Aku selalu kembali ke sofa biru itu terlebih dahulu, diam sejenak, menikmati semilir angin subuh yang sejuk dan mendengar sautan suara masjid yang saling bertabrakan, namun indah di telinga. Indah di telinga.

Comments

Popular Posts